Cerita Masa Kecilku : Mengaji


Ada sebuah cerita sewaktu saya masih kecil. Banyak yang bilang bahwa saya berbeda dengan anak anak yang lain, dikala anak anak lain malas mengaji, saya sangat suka mengaji, sebelum saya memasuki sekolah tingkat kanak-kanak, saya sudah belajar mengaji. Dimushola yang tak jauh dirumah itu aku mengenyam pendidikan agama tingkat dasar. Pada saat itu ustadz yang yang mengajar adalah ustazd Ali Muji dan Ustadzah is. Saya sangat sayang kepada mereka dan berterimakasih kepada. Mereka sangat berjasa dalam memeberikan pendidikan agama Islam.

Adzan ashar sudah bergema dan sudah saatnya anak dikampungku untuk mengaji.

“oalah lee ijik cilik ae ape ngaji barang”. Teriakan beberapa tetangga yang meneriakiku ketika beranjak ke mushola.

“kersane bu, kulo pingin pinter koyok pak Ali”. Jawabku .

Suara itupun hilang tak kuhiraukan. Tujuanku saat itu hanyalah belajar mengaji biar seperti ustadz Ali. Berbagai tanggapan seperti itupun sering kuhadapi dan paling sering adalah dari nenekku sendiri. Nenekku dulu sangat melarang ibu dan budeku untuk mengaji dan bersekolah. Kata kata nenek yang selalu kuingat adalah “gak usah ngaji kadar yo mungkin dadi bu nyai, g usah sekolah kadar yo gak mungkin dadi bu guru”. Sebab itulah ibu dan bude – budeku tidak pernah mengenyam sekolah ataupun mengaji. Perjalanan menuju mushola cukup dekat. Hanya 10 menit saya sudah menapakkan kakiku di Mushola ini.

Hanya ada beberapa santri yang hadir saat itu. Sedangkan sang ustadz pun belum tampak datang. Maklum jarak rumah ustadz ke mushola itu lumayan jauh.

Sambil menunggu ustadz datang, kami para santri sering bergurau layaknya anak kecil.

“ Woi ojok rame ae, langgar iku duduk gawe guyoon!!!” . suara dari rumah sebelah mushola terdengar keras. Itu adalah mbok Lah. Beliau adalah penghuni rumah sebelah mushola. Sosok nenek nenek tua yang tidak suka keramaian.

Sontak kamipun kaget dengan teriakan mbok lah tersebut.  Gurauan kami yang tadinya riuh rame tak karuan langsung terhenti. Sunyi tanpa suara siapapun. Satu persatu temen temen santri datang.  Dan kamipun merasa bosan karena menunggu ustadz yang tak kunjung datang. Hingga akhirnya salah satu dari teman kami angkat bicara. Triwanto namanya. Kalau dari sil silah keluarga dia masih punya hubungan keluarga denganku. Ibunya Triwanto ini adalah adik tiri dari nenek saya.

“rek kon gelem tak ceritane medi gak?”. Ungkap Tri dalam keheningan.

Dengan serentak kamipun mengangguk anggukan kepala kami. Lihat isyarat dari kami yang meng iya kan tawaran Tri, dia pun dengan semangat memulai cerita horornya.

“kon ngerti kan ndek omahku ono wit klopo. Wit klopone iku lak akeh se. la lek bengi wit klopo iku ono medine. Medine iku wong lanang, sirahe putul, terus putulane iku di cekel ndek tangan tengene..suereeeem kon,,,hiiii,,medeni pokoke”. Ujar Tri.

Suasana mushola yang hening dan sunyi itu tiba tiba menjadi horror. Saya pun yang saat itu masih kanak kanakpun sangat ketakutan dengar ceritanya. “ terus terus, sampyan tau dikethoki tah kang Tri?”. Tanya saya penasaran.

Tri Belum menjawab pertanyaan saya tiba tiba suara motor othok terdengar, motor othok adalah motor jenis duatag yang sangat kuno. Dan itu adalah sepeda motor ustadz Ali. Suasana hening dan sunyi terpecah dengan teriakan gembira.

“Pak Ali teko ..pak Ali tekooo,,,horee”. Kami semua langsung berlarian mencium tangan ustadz Ali. Terlihat ada salah satu anak yang tidak senang hatinya. Yaitu Kang Tri. Bukan karena harus mengaji, tapi kisah horornya terpotong setelah ustadz Ali datang. Hamper setiap hari sambil menunggu ustadz ali datang, Triwanto selalu mengumpulkan kami untuk sekedar mendengar cerita cerita horornya. Dan saat itu saya masih percaya dengan cerita cerita bodoh seperti itu.

Setelah ustadz Ali menanggapi ciuman tangan dari kami. Ustdaz Ali pun memulai pelajaran dengan mengajak kami untuk sholat ashar berjamaah. Banyak dari kita yang masih belum paham betul dengan sholat. Sehingga banyak dari kita yang sholat secara sembarangan layaknya anak kecil yang melakukan apapun tanpa takut dosa. Masih sering toleh toleh, sikut sikutan dan berguarau. Ustadz Ali adalah sosok guru mengaji yang amat sangat penyabar. Melihat tingakh laku anak didiknya seperti itu beliau tidak pernah marah. Beliau memberikan arah yang benar dengan lemah lembut dan penyayang.

“lekne sholat mboten angsal ngoten, mangke duso, sholat niku menghadap gusti Allah, menghadap tuhan semesta alam, jadi kalau besok sholat berjamaah lagi atau sholat sendirian harus tenang, tidak boleh bergu,,,rau. Bisa kan??. Nasehat ustadz Ali setelah menjadi imam sholat ashar waktu itu.

“sekarang kita belajar mengaji untuk anak yang  masih kecil diruangan perempuan ya, yang sudah besar di ruangan laki laki”. Titah ustadz Ali saat pembagian tempat untuk mengaji. Iya musola kami cukup besar untuk kami mengaji. Terdiri dari dua ruangan, yaitu ruangan sholat laki-laki dan ruangan sholat perempuan. Masing masing ruangan ini dipisahkan oleh tembok dengan satu pintu. Dan ustadz membagi dua bagian yaitu usia dibawah 10 tahun dan diatas 10 tahun. Pelajaran yang sangat mudah diingat pada saat itu adalah pelajaran membaa alquran yang unik. Pembacaan tartil alquran dengan pengucapan yang pas.

“semuanya ikutin ya. Ba Bi Bu Bab”. Ajak Ustadz Ali

“Ba Bi Bu Bab”. Serentak kita sambil teriak mengikuti suara ustadz Ali.

“Ta Ti Tu Tats”. Ajak Ustadz Ali sekali lagi

“Ta Ti Tu Tat”. Sahut kami sembarangan menjawab

Dengan tersenyum ustadz Ali mencoba bersabar menghadapi kanakalan kami,

“Tats..lidahnya sambil digigit dikit yaaa. Jangan tat”. Ucap ustadz Ali menanggapi jawaban kami yang sembarangan.

Ustadz Ali memang sosok yang selalu menjadi dambaan setiap anak saat itu, sikap sabar, lemah lembut, dan penyayangnya membuat kami bertekuk lutut dan mematuhi titahnya.

Kamipun sangat bersemangat mengikuti suara ustadz kami yang sangat fasih itu. Terdengar diserambi laki laki suara suara fasih dari kakak kakak sebelah sangat fasih terdengar. Salah satunya adalah Cak Suliono dan Mas Edi. Cak Suliono adalah saudara saya dari ibu. Sedangkan mas edi adalah kakak dari teman saya. Mereka juga belajar sangat fasih dari ustadz Ali. Cak Suliono adalah salah satu terobosan hebat anak didik ustadz Ali, suara yang fasih dan sangat penurut.

Sebelum mengaji dibubarkan, ustadz Ali menunjuk beberapa santri untuk tinggal dimushola karena ada pengumuman. Salah satunya adalah saya. Saya sangat kaget karena dari sekian banyak santri yang ada kenapa saya yang masih bau kencur ikut dipanggil. Suasana hati saya penuh dengan Tanya. Ada perasaan takut dan gelisah. Namun saya tidak sendirian, saudara saya Cak Suliono pun dipanggilnya. Setelat semua santri pulang, Ustadz Ali mengabarkan bahwa kami yang masih stay di Mushola akan ditugaskan untuk mengikuti berbagai lomba. Acara lomba ini diadakan di pusat pondok pesantren dusun gadungan. Berbagai macam lomba pun diadakan saat itu, diantaranya adalah lomba adzan, tartil Alquran, Qiroah, Puisi, dan da’i. sayapun semakin takut dikala itu. Saya masih kecil, masih belum bisa membaca al-qur an dengan lancar harus ikut serta dalam lomba ini. Tanpa basa basi saya pun langsung bertanya.

“Pak Ali saya kan masih belum bisa baca Al-Quran. Saya maluu”. Tanya ku saat itu.

“Joni nanti ga usah baca Al-Qur an, joni nanti lomba puisi saja ya” jawab ustadz Ali meneduhkan Hati. Namun sayapun bertambah takut, karena saat itu saya masih belum ngerti arti puisi.

“Pak Ali saya gak ngerti Puisi, saya baca saja masih belum bisa”. Jawab saya kketakutan

“Joni, kan gak pernah baca puisi oleh karena itu belajar baca puisi. Nanti biar mbak atimah yang ngajarin Joni membaca puisi dan bagaimana berpuisi itu, Pak Ali yakin Joni pasti bisa, Joni kan anake periang, pemberani, masak lomba puisi aja takut, malu donk ama teriak teriakannya Joni selama ini.” Jawab Ustadz Ali memotivasi saya.

Karena merasa gengsi dan sindiran ustadz ali, saya pun bersedia untuk ikut lomba puisi. Meskipun tak ada pengetahuan sedikitpun mengenai Puisi Di benakku. Akan tetapi berkat dorongan dan keyakinan ustadz Ali kepadaku sayapun ikut yakin bahwa aku bisa.

Hari demi hari aku lalui dengan selalu menghapal puisi. Puisi tersebut dibuat oleh mbak Fat, mbak Fat adalah kakak dari sahabat karib saya. Mbak Fat yang selalu mengajarkan kepada saya bagaimana membaca puisi, gerakan gerakan puisi. Pada saat itu saya masih belum paham betul perihal puisi, jadi apapun yang diajarkan mbak Fat selalu aku terapkan. Dengan menghapalkan puisi tersebut saya jd tidak mengerti arti dan maksud dari puisi tersebut. Yasudahlah yang terpenting saat itu adalah saya haru bisa membuktikan ke ustadz Ali bahwa saya bisa. Itu saja yang ada dalam benakku. Dan akhirnya waktu perlombaan pun tiba. Satu persatu peserta lomba maju kedepan. Mengeluarkan semua keahlian dan bakat yang dimiliki. Giliran saya pun tiba. Dengan lantang namaku di panggil. Ustadz Ali dengan menggunakan jubah putih mengalungkan serbannya ke leherku.

“Ayo le, kamu pasti bisa”. Ucap ustadz Ali memotivasi saya.

Saya pun langsung naik ke atas panggung yang tinggi.

 

Satu hal yang selalu menjadi pelajaran bagiku adalah percaya Diri itu muncul ketika kita yakin pada kemampuan kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s