karakter dan reputasi


Karakter dan Reputasi

Hubungan antara karakter dan reputasi dijelaskan oleh seorang bernama
John Wooden dengan sangat tepat. Ia mengatakan, “Be more concerned
with your character than your reputation, because your character is
what you really are, while your reputation is merely what others
think you are”. Dengan kata lain, karakter menyangkut innate image
sementara reputasi menyangkut social image. Mengutamakan innate image
ini berarti being true to yourself, jujur terhadap diri sendiri alias
menjadi otentik, yang merupakan jalan satu-satunya untuk dapat
membangun integritas sejati (baca: menjadi manusia yang utuh).

Di era lahirnya––apa yang dengan tepat disebut oleh Yasraf Amir
Piliang sebagai––sebuah dunia yang dilipat (baca: internet), tehnik-
tehnik pencitraan telah menjadi komoditi yang dikonsumsi dengan lahap
oleh siapa saja yang ingin dicitrakan secara positif untuk memperoleh
atau melindungi kepentingan tertentu. Artinya ada upaya untuk
mendahulukan reputasi melalui proses rekayasa yang canggih dan
sistematik, agar citra sosial yang ditampilkan lewat serangkaian
aktivitas public relations dapat membentuk opini publik
tentang “seseorang” atau “sesuatu”. Soal apakah reputasi ciptaan itu
sesuai atau tidak dengan realitas dan kebenaran, menjadi urusan nomor
dua.

Dampak yang paling mengerikan dari upaya mendahulukan reputasi
daripada karakter adalah makin suburnya kemunafikan dan kepalsuan.
Hal ini paralel dengan apa yang digagas Stephen R. Covey (1989)
ketika membicarakan dan membedakan antara Personality Ethic dan
Character Ethic. Sebab menurut studi doktoral yang dilakukan Covey,
literatur tentang cara-cara meraih keberhasilan atau sukses––
khususnya di Amerika, tetapi mungkin juga benar secara universal––
mengalami pergeseran dari penekanan kepada usaha membangun karakter
seperti yang dicontohkan oleh Benyamin Franklin, ke penekanan kepada
usaha pengembangan kepribadian.

Di Amerika, selama kurun waktu 150 tahun pertama sejak kemerdekaannya
(1776–1926), fondasi keberhasilan diyakini bertumpu pada Character
Ethic, yakni upaya mengintegrasikan prinsip-prinsip agar menjadi
bagian dalam diri. Integritas, kerendahan hati, kesetiaan, pembatasan
diri, keadilan, kesabaran, kesederhanaan, keberanian, kerajinan,
kesantunan, dan the Golden Rule (berbuatlah kepada orang lain seperti
yang kamu kehendaki orang lain perbuat kepadamu), merupakan hal yang
diyakini sebagai fondasi kokoh bagi keberhasilan sejati. Lalu, pada
50 tahun berikutnya (1926–1976), terjadi pergeseran ke arah
Personality Ethic. Keberhasilan lalu lebih dipahami sebagai fungsi
kepribadian, citra public, sikap dan perilaku, berbagai keterampilan
dan tehnik-tehnik yang memperlancar interaksi hubungan antar manusia.
Dua pola yang mendukung Personality Ethic ini adalah (1) teknik-
tehnik human and public relations; dan (2) ajaran mengenai positive
mental attitude (PMA).

Ajaran Covey mungkin membuat marah para `pengikut’ (antara lain)
David J. Schwartz, Napoleon Hill, dan Norman Vincent Peale. Namun
dengan kepala dingin kita dapat menilai bahwa dalam hal ini Covey
benar. Rekayasa citra sangat berpotensi untuk menjadi prostitusi
citra, dan rekayasa sikap positif yang tidak didasarkan pada
paradigma yang lebih baik hanya dapat memberikan perubahan sementara
yang tidak mendasar dan karenanya “kurang bernilai”.

Hal ini tidak berarti bahwa social image itu tidak perlu direkayasa,
tetapi hal itu hendaknya tidak dilakukan untuk memanipulasi,
mengaburkan, dan menyimpang dari innate image seseorang. “Tampilan”
diri seseorang atau sesuatu itu harus selaras dan benar-benar
mencerminkan the true self (diri sejati) yang ada “didalam” (innate).
Bila tidak, maka yang terjadi adalah pemalsuan atau twisting of
meaning (pemelintiran makna). Hal ini hanya akan melahirkan orang-
orang munafik yang kata-kata dan perbuatannya saling bertabrakan
sehingga ia tidak dimungkinkan menjadi pribadi yang berintegritas
(utuh).

Character Ethic berkaitan dengan upaya membangun karakter (innate
image), sementara Personality Ethic adalah soal membangun reputasi
(social image). Yang pertama harus menjadi landasan bagi yang kedua,
dan bukan sebaliknya. Yang pertama berkaitan dengan prinsip-prinsip
hidup, sementara yang kedua menyangkut soal gaya hidup. Dan hanya
bila keduanya selaras, maka keberhasilan seseorang dapat menjadi
lestari (sustainable) karena bersifat sejati. Bila tidak, maka
keberhasilan itu ibarat bangunan yang tak berfondasi atau dibangun di
atas pasir. Banjir dan angin topan (baca: krisis) akan
meluluhlantakkan semua itu dalam sekejap waktu. Dan reputasi palsu
atau citra sosial yang dibangun berpuluh tahun akan lenyap seketika
seiring dengan tampilnya `karakter tercela’ yang selama ini
disembunyikan. [aha]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s