1307100038_munculo po’o


Kerja Keras

“Jika ada pintu di depan saya, akan saya ketuk. Jika saya tidak dapat
masuk melalui pintu itu, saya akan masuk melalui jendela.”
— Rosie Perez, aktris

KUTIPAN di atas mungkin terkesan aneh. Seperti maling saja atau orang
nekat. Tapi, ucapan Rosie Perez ini mau tidak mau menandakan sebuah
kerja keras yang tidak mengenal lelah. “Elo tutup, gue cari jalan
laen,” begitu ucapan lugas Almarhum Benyamin Suaib, dalam lagu `Lampu
Merah.’

Soal kerja keras, ini ada cerita menarik. Rasanya tak salah bila Anda
luangkan waktu sejenak untuk menyimaknya. Henry Ward Beecher adalah
seorang pengkhotbah terkenal asal Amerika di abad 19. Barangkali, di
zaman sekarang mirip dengan aksi motivator yang ditunggu banyak orang
dan meraup banyak uang dari kata-kata yang disampaikannya. Suatu
hari, seorang remaja menulis surat pada Beecher. Langsung pada
persoalan, dia minta dicarikan `pekerjaan yang mudah.’ Beecher
membalas surat tersebut, “Kalau itu perilaku Anda, maka Anda tak akan
memperoleh apa pun. Anda tidak bisa menjadi redaktur koran atau
majalah, tidak dapat menjadi pengacara, apalagi menjadi akuntan,
bahkan tidak pula menjadi pegawai departemen. Tidak satu pun dari
pekerjaan-pekerjaan itu mudah. Belum lagi bidang-bidang lain seperti
perniagaan, pengangkutan, praktik politik, dan lupakan kemungkinan
memasuki kerumitan bidang kedokteran dan pengobatan. Untuk menjadi
petani dan tentara saja, Anda harus belajar dan berpikir. Anakku,
Anda memasuki dunia yang keras. Saya hanya tahu tempat yang mudah
hanyalah liang kubur.”

Tanpa basa-basi tapi kita tahu Beecher tidak salah. Kerja keras
adalah modal dalam mencapai segala hal yang diinginkan. Margaret
Thatcher, Perdana Menteri Inggris yang kesohor itu dalam sebuah acara
mengatakan, “Saya tidak pernah tahu bahwa ada orang yang berhasil
meraih puncak tanpa kerja keras. Kerja keras adalah resepnya.”

Tidak ada satu pun pekerjaan-pekerjaan di dunia ini yang mudah. Tapi
semua bisa diperoleh, termasuk hanya dengan kepalan tangan. George
Edward Foreman, atau lebih dikenal Big George adalah petinju
legendaris. Bersama dengan Muhammad Ali dan Joe Frazier, mereka
adalah nama-nama harum di ring tinju pada dekade 1970-an. Karirnya
fantastis. Dia meraih emas di Olimpiade Meksiko 1968 dan langsung
buka baju untuk bertanding di dunia tinju profesional setahun
berikutnya. Singkat cerita, empat tahun berselang, Foreman menjadi
juara dunia tinju kelas WBA dan WBC pada Januari 1973. Lawannya Joe
Frazier dipukul TKO. Kemenangan ini membuatnya menjadi petinju yang
paling pas menjadi lawan Muhammad Ali. Keduanya memiliki pesona.
Foreman yang kuat dan Ali nan cerdik bertarung di Kinshasa, Zaire.
Ali berhasil melucuti gelar Foreman dengan kemenangan KO pada ronde 8
dalam sebuah pertandingan yang mendebarkan. Kekalahan betul-betul
memukul Foreman. Dia pun pergi dari ring dan memilih menjadi pendeta.

Namun, pada 1987, secara mengejutkan Foreman kembali menekuni tinju.
Usianya tidak muda lagi, hampir 40 tahun. Satu demi satu lawan dia
empaskan. Hingga akhirnya, dia menjadi juara dunia dengan mengalahkan
Michael Moorer versi WBA dan IBF pada 5 Nopember 1994. Gelar itu
bukan semata menjadi pembuktian bahwa Foreman masih perkasa, namun
juga membuat namanya tercatat sebagai juara dunia tinju tertua. Saat
itu usianya tidak muda lagi, 45 tahun.

Kerja keras tentulah tidak hanya milik mereka yang kuat, tangguh, dan
hanya mengandalkan kekuatan fisik. Kerja keras tidak melulu
ditunjukkan dengan otot. Namun juga mereka, kaum wanita yang
menjalani hidup dengan kelembutan dan kesabaran yang luar biasa.
Dengan kekuatan itu, mereka pun sanggup mengalahkan berbagai
rintangan yang menghadangnya. Nah, ini cerita lain lagi.

Anda pernah mengenal nama Menus Wisnuhardjo? Pada 1998, Menus
melahirkan bayi kembarnya. Tahukah Anda perjalanan mendapatkan bayi
kembar tersebut?

Bagi seorang wanita, tak ada yang lebih indah kecuali mendapatkan
seorang momongan. Berbagai cara akan ditempuh untuk segera dapat
menimang bayi. Tetapi bagaimana rasanya bila seorang wanita yang
hamil kemudian mengalami keguguran? Tentu perasaan kecewa dan sedih
yang dirasakannya. Atau bagaimana pula perasaan seorang wanita, bila
mengikuti program bayi tabung, ternyata gagal dan belum membuahkan
hasil. Kecewa? tentu saja. Sedih? Jangan ditanya. Mungkin bukan soal
uangnya untuk membiayai program bayi tabung yang cukup besar yang
dipermasalahkan, tapi kegagalan itu sendirilah yang jadi persoalan.
Sejak tahun 1992, Menus mengalami tujuh kali keguguran dan lima kali
gagal dalam program bayi tabung! Jangan Anda tanya bagaimana perasaan
Menus waktu itu. Sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Keinginan Menus dan suaminya untuk mendapatkan buah hati selalu
terhalang. Semua berawal ketika suami tercinta terkena penyakit tifus
yang menyebabkan volume sperma suami menurun drastis. Mereka menikah
di tahun 1991. Sedangkan selisih usia mereka terbilang jauh, yakni 18
tahun. Menus akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan setelah tidak
juga hamil. Sang suami bukannya tinggal diam mengetahui kondisinya,
sang suami kemudian menempuh upaya pemulihan volume sperma dengan
melakukan berbagai pengobatan yang cukup menguras kocek. Akan tetapi,
itu tidak juga membawa harapan untuk cepat memiliki anak. Pada tahun
1992 itu pula, Menus melakukan program inseminasi intra uterus (IIU).
Hasilnya cespleng. Menus terlambat datang bulan dan hamil. Sayangnya,
beberapa waktu kemudian keguguran. Tahun 1993, ia mencoba lagi IIU,
tapi kembali mengalami keguguran. Kalau saat ini, mungkin akan banyak
orang mengatakan, “cape deh.” Tapi kalimat itu tak ada di kamus
mereka. Mereka sangat yakin, hanya dengan kerja keras, akan ada jalan
yang akan mereka petik nantinya.

Pada 1994, mereka menjalani program bayi tabung di Singapura. Bahkan
sampai harus tinggal dua bulan di sana. Gagal di Singapura, mereka
kembali ke Tanah Air. Mereka pun mencoba berbagai pengobatan
tradisional di beberapa pelosok tanah air. Sampai akhirnya Menus
terpaksa menelan berbagai jamu pahit yang dikatakan bisa mendatangkan
kehamilan. Tahun 1998, mereka membaca iklan di surat kabar mengenai
program bayi tabung. Sekali lagi mereka mencoba. Usaha yang tak
mengenal lelah ini akhirnya membuahkan hasil. Mereka bukan hanya
diberi seorang momongan, tetapi kembar sekaligus.

Kerja keras dan keteguhan hati memang harus Anda lakukan bila Anda
ingin memetik hasilnya. Bila Anda ingin mendapatkan kesuksesan tanpa
kerja keras, seperti kata Beecher, Anda mungkin tinggal mengambil
sekop dan kemudian menggali liang kubur Anda sendiri. Karena tempat
yang mudah di dunia ini hanyalah liang kubur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s