PEDAGANG DAN NELAYAN


Hi, ni aku ada cerita yang bagus untuk dibaca lho….so jangan dilewatkan ya???biar kamu-kamu semua yang baca bertobat dan mensyukuri yang sudah ada.ok. Selamat Membaca!
Suatu hari, seorang pedagang kaya datang berlibur kesebuah pulau yang masih asri. Saat merasa bosan, dia berjalan-jalan keluar dari villa tempat dia menginap dan menyusuri tepian pantai. Terlihat di sebuah dinding karang seseorang sedang memancing, di menghampiri sambil menyapa, ”sedang memancing ya pak?”, sambil menoleh si nelayan menjawab,
”Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk makan malam keluarga kami”.
”Kenapa cuma satu-dua ikan pak?kan banyak ikan dilaut ini,kalau bapak mau sedikit lebih lama duduk disini,tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?”
Kata si pedagang yang menilai si nelayan sebagai orang malas.”Apa gunanya buat saya pak?”tanya si nelayan keheranan.”satu-dua ekor disantap keluarga bapak ,sisanya kan bisa dijual.hasil penjualan ikan bisa ditabung untuk membeli pancing lagi sehingga hasil pancingan bapak bisa lebih banyak lagi”katanya menggurui.
”Apa gunanya bagi saya?”tanya si nelayan semakin keheranan.
”Begini. Dengan uang tabungan yang lebih banyak, bapak bisa membeli jala. Bila hasil tangkapan ikan semakin banyak,uang yang dihasilkan juga lebih banyak,bisa saja bapak membeli sebuah perahu.dari satu perahu busa bertambah menjadi armada penangkapan ikan. Bapak bisa memiliki perusahaan sendiri.suatu hari bapak akan menjadi seorang nelayan yang kaya raya”.
Nelayan yang sederhana itu memandang si turis dengan penuh tanda tanya dan kebingungan. Dia berpikir, laut dan tanah telah menyediakan banyak makanan bagi dia dan keluarganya, mengapa harus dihabiskan untuk mendpatkan uang? Mengapa dia ingin merampas kekeyaan alam sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali.sungguh tidak masuk akalide yang ditawarkan kepadanya.
Sebaliknya, merasa hebat dengan ide bisnisnya si pedagang kembali meyakinkan,”Kalau bapak mengikuti saran saya, bapak akan menjadi kaya dan bisa memiliki apapun yang bapak mau”.
”Apa yang bisa saya lakukan bila saya memiliki banyak uang?”tanya si nelayan.
”Bapak bisa melakukan hal yang sama seperti saya lakukan,setiap bisa berlibur,mengunjungi pulau seperti ini,duduk di dinding pantai sambil memancing?”.
”Lho, bukannya hal itu yang saya lakukan setiap hari tuan,kenapa harus berliburbaru memancing?”,kata si nelayan menggeleng-gelengkan kepalanya semakin heran.
Mendengar jawaban si nelayan, si pedagang seperti tersentak kesadarannya bahwa untuk menikmati memancing ternyata tidak harus menunggu kaya raya.
Pepatah mengatakan, jangan mengukur baju dengan badan orang lain.
Si pedagang mungkin benar melalui analisa bisnisnya, dia merasa apa yang dilakukan oleh si nelayan terlalu sederhana, monoton dan tidak bermanfaat. Memgeruk kekeyaan alam demi mendapatkan uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya adalah wajar baginya.
Sedangkan bagi si nelayan, dengan pikiran yang sederhana, mampu menerima apapun yang diberikan oleh alam dengan puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani setiap hari dengan rasa syukur dan berbahagia.
Memenag ukuran ”bahagia”,masing-masing orang pastilah tidak sama. Semua kembali pada keikhlasan dan cara mensyukuri, apapun yang kita miliki saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s